Awalnya SPPN (Serikat Perempuan Petani dan Nelayan) adalah kelompok perempuan di desa-desa pesisir pantai timur Sumatera Utara yang diorganisir HAPSARI bersama serikat nelayan di Sumut. Ketika berdiri sekitar tahun 2002, organisasi ini bernama serikat perempuan nelayan. Tetapi, karena keanggotaan dari serikat ini tidak hanya perempuan pesisir dari keluarga nelayan, melainkan juga dari keluarga petani, maka melalui kongres yang pertama 6 Oktober 2004 disepakati untuk memilih nama menjadi Serikat Perempuan Petani dan Nelayan (SPPN).
Kemiskinan adalah realitas paling nyata yang dialami oleh mayoritas masyarakat pesisir terutama kaum nelayan. Ini disebabkan oleh sulitnya kaum nelayan mencari nafkah di laut karena kekurangan modal untuk membeli perlengkapan melaut yang harganya sangat mahal. Biasanya mereka mendapatkan perlengkapan tersebut dengan cara berhutang kepada tengkulak, dengan resiko mereka harus menjual seluruh hasil tangkapannya kepada tengkulak tersebut dengan harga jual yang sepenuhnya ditentukan ditentukan oleh tengkulak dan biasanya sangat murah. Sehingga para nelayan hanya mendapatkan hasil satu hari untuk biaya hidup (keperluan keluarga) satu hari itu juga. Sulit bagi mereka untuk menerapkan pola konsumsi yang sehat (makan dengan cukup gizi) karena hasil laut hampir seluruhnya dijual, juga sulit untuk dapat menyekolahkan anak-anak mereka sampai ketingkat yang tinggi.
Dalam kesulitan ekonomi yang demikian, para istri harus ikut “membantu mencari nafkah”, misalnya mencari kerang di laut, mengupas kulit udang, membuat tikar atau bekerja di ladang-ladang sekitar desa, dengan tetap harus mengerjakan semua tugas-tugas rumah tangga karena perempuan diharuskan bertanggungjawab terhadap urusan rumah tangga. Akibatnya, perempuan pesisir menanggung beban pekerjaan yang berlipat ganda. Sayangnya mereka tidak mendapatkan fasilitas untuk mempermudah pekerjaan mereka, misalnya sarana transportasi atau teknologi yang mudah dipergunakan oleh perempuan. Ini masih diperburuk dengan kondisi dimana ketersediaan air bersih yang minim dan mahalnya biaya berobat ke dokter.
Dari kondisi yang demikianlah, maka fokus utama program-program SPPN adalah membangun budaya kerjasama melalui organisasi, untuk mengatasi persoalan-persoalan keseharian yang dihadapi perempuan pesisir. SPPN ingin menyuarakan ke kalangan pemerintahan setempat bahwa ada banyak persoalan sosial, ekonomi, budaya dan juga politik yang dialami oleh masyarakat pesisir, terutama kaum perempuan, maka suara perempuan harus didengarkan. Untuk mengatasi kesulitan pendidikan bagi anak-anak, SPPN juga menyelenggarakan Sanggar Belajar Anak yang saat ini berjumlah 5 SBA di 5 desa pada 2 kecamatan di kabupaten Serdang Bedagai. Sampai tahun 2005 SPPN mempunyai anggota yang menyebar di 12 desa dan 4 kecamatan dengan jumlah anggota sebanyak 170 orang, dimana 123 orang diantaranya aktif mengikuti kegiatan organisasi dan membayar iuran.
Program Utama SPPN Serdang Bedagai :
- Sanggar Belajar untuk Anak Pesisir
- Pembentukan Kelompok Usaha Bersama
- Pendidikan dan Penyuluhan tentang Hak-hak Perempuan
- Konservasi Lingkungan Pesisir
Kepengurusan SPPN Serdang Bedagai
Periode 2007 – 2009 :
Dewan Pelaksana Harian (DPH)
Ketua : Rusmawati, Wakil Ketua : Rubini, Sekretaris ; Henny Rahayu
Bendahara : Sumarni
Dewan Pengawas Serikat (DPS)
Koordinator :
Emma Salamah
Anggota : Jumasni – Titinawati – Siti Fatimah – Minarni
Sekretariat :
Desa Liberia Dusun II Sidodadi
Kec.Teluk Mengkudu 20986
Telp : 061-7623 0395
Email : sppn_sergai@yahoo.com
REKAMAN FHOTO KEGIATAN SPPN


Mantap Coi……tapi jangan berhenti sampe di sini ya…
Maju terus SPPN nanti kami menyusul bikin blog juga.
Jabat Erat,
Lubis-SPI Labuhanbatu
Makasih ibu Lubis, jangan cuma puja-puji lo. Kami tunggu web kalian dari Labuhanbatu sana. Pasti juga mantap!!!
Henni-SPPN